Jumat, 05 Mei 2023

Asertif

 

Teori Asertif

 

Asertif adalah tingkah laku yang menampilkan keberanian untuk secara jujur dan terbuka dalam menyatakan kebutuhan, perasaan dan pikiran-pikiran apa adanya, mempertahankan hak-hak pribadi serta menolak permintaan-permintaan yang tidak sesuai atau tidak masuk akal dari orang lain atau standar-standar yang berlaku (Rathus & Nevid, 1983). Senada dengan hal tersebut, Sunardi (2010) menyatakan bahwa asertif adalah kemampuan untuk menyatakan diri dengan tulus, jujur, jelas, tegas, terbuka, sopan, spontan, apa adanyadan tepat tentang keinginan, pikiran, perasaandan emosi yang dialami, apakah hal tersebut yang dianggap menyenangkan ataupun mengganggu sesuai dengan hak-hak yang dimiliki dirinya tanpa merugikan, melukai,menyinggung, atau mengancam hak-hak, kenyamanan, dan integritasperasaan orang lain.

Perilaku asertif tidak dilatarbelakangi maksud-maksud tertentu, seperti untuk memanipulasi, memanfaatkan, memperdaya atau pun mencari keuntungan dari pihak lain. Dalam berlatih asertif bukan hanya terfokus pada perilaku verbal, tetapi juga komponen-komponen lain seperti kontak mata, postur tubuh, gesture, ekspresi wajah, volume suara dan kelancaran (Nissim & Sabat, 2013). Menurut Simplicio (3013) perilaku asertif dapat cenderung didorong oleh kepribadian individu.

Menurut Lange & Jakubowski (1978), terdapat beberapa ciri-ciri individu dengan perilaku asertif, ciri-ciri yang dimaksud adalah:

1.      Menghormati hak-hak orang lain dan diri sendiri. Hal yang dimaksud adalah bahwa setiap individu memiliki hak yang sama dengan individu lainnya tanpa melihat perbedaan usia, jabatan atau golongan.

2.      Berani mengemukakan pendapat secara langsung. Hal yang dimaksud adalah bahwa setiap individu dengan perilaku asertif akan mampu mengungkapkan segala perasaan yang dirasakannya atau sesuatu yang dipikirkannya.

3.      Kejujuran. Dalam hal ini, kejujuran yang ditunjukkan dalam mengekspresikan diri agar dapat mengkomunikasikan perasaan, pendapat ataupun pilihan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

4.      Memperhatikan situasi dan kondisi. Hal yang dimaksud adalah, bahwa setiap individu yang berperilaku asertif akan mampu memperhatikan situasi, lokasi, frekuensi serta intensitas  komunikasi

5.      Bahasa tubuh. Selain dari beberapa ciri perilaku asertif yang telah dijelaskan sebelumnya, ciri perilaku asertif lainnya dapat ditunjukkan dengan bahasa tubuh. Tidak berani melakukan kontak mata serta mengemukakan nada bicara yang tidak tepat dapat menghambat komunikasi.

Menurut Rathus dan Nevid (1983), terdapat enam hal yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif, yaitu:

1.      Jenis Kelamin. Jenis kelamin mempengaruhi perkembangan perilaku asertif. Wanita pada umumnya lebih sulit bersikap asertif seperti mengungkapkan perasaan dan pikiran dibandingkan dengan laki-laki.

2.      Self-Esteem. Disebut juga dengan harga diri. Individu yang berhasil untuk berperilaku asertif adalah individu yang harus memiliki keyakinan. Orang yang memiliki keyakinan diri yang tinggi memiliki kekuatiran sosial yang rendah sehingga mampu mengungkapkan pendapat dan perasaan tanpa merugikan orang lain dan diri sendiri.

3.      Tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin luas wawasan berpikir sehingga memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih terbuka.

4.      Tipe Kepribadian. Hal ini dipengaruhi oleh tipe kepribadian, dimana seseorang akan bertingkah laku berbeda dengan individu kepribadian lain.

Simplicio (2012) juga menyebutkan bahwa pelatihan asertif memiliki dampak postif dan memungkinkan untuk koban bullying sebagai upaya mengajarkan cara mengungkapkan melalui kegiatan sosial.  Selain itu tujuan pelatihan asrtif adalah untuk meningkatkan keyakinan dan perilakuindividu  sehingga mereka tegas terhadap diri mereka sendiri, mendapatkan "self-esteem" dan menunjukkan emosi pribadi serta pikiran secara tepat. Kemudian hasil dari pelatihan aserif adalah berkembangkan kemampuan interpersoanl individu menjadi lebih efektif (Albert & Emmerson dalam Dehanavi & Ebrahimi, 2016).

 Daftar Pustaka

Dehnavi & Ebrahimi. (2016). Effect of Assertiveness Skills Training on the Level of Aggression in High School First Grade Female Students in Qorveh City. International Journal of Humanities and Cultural Studies ISSN: 2356-5926

Lange, A. J dan Jackubowski, P. (1978). Responsible assertive behavior: Cognitive behavioral procedures training. Illionis: Research Press

Nissim, M & Sabat. (2013). Parental Bullying, Aggresion and Assertion: A Philosophical and Psychoanalytic Revisioning of Frank’s Summers Case of Anna. Psychoanalityc Inquiry 33:153-165 doi: 10.1080/07351690.2013.764708

Rathus, S. A & Nevid, J. S. (1983). Adjustment and growth: The challenges of life. (2nded).CBS College Publishing: New York

Simplicio, J. (2012). How to Effectly Use Positive Character Attributes Exhibited By Bullies t Change Negative Behaviors. Journal of Instructional Psychology Vol.40 No.1

Sunardi. 2010. Latihan Asertif. Diunduh tanggal 20 Oktober di http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031-SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/LATIHAN_ASERTIF.pdf

 

Well-being

 

A.    Definisi Psychological Well-being

Ditinjau dari segi bahasa, kata “well-being” bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya adalah “kesejahteraan”. Ryan dan Deci (dalam Samman E., 2007) mengemukakan bahwa ada dua pendekatan mengenai well-being. Pertama adalah pendekatan hedonis dan yang kedua adalah pendekatan eudamonis. Dari dua pendekatan tersebut telah melahirkan dua konsep baru mengenai well-being, yaitu subjective well-being (kesejahteraan subjektif) dan psychological well-being (kesejahteraan psikologis).

Pendekatan hedonis menjadi landasan bagi konsep subjective well-being, sedangkan pendekatan eudaimonik menjadi landasan bagi konsep psychologicalwell-being. Konsep subjective well-being menyatakan bahwa well-being individu ditentukan oleh sejauhmana kepuasan individu terhadap kehidupannya serta sejauhmana keseimbangan antara afek positif dan afek negatif yang dirasakan oleh individu tersebut Bradbum, Ryff dan Keyes (dalam Snyder dan Lopez, 2002). Sementara itu, konsep psychological well-being menyatakan bahwa well-being ditentukan oleh seberapa baik kemampuan individu untuk berfungsi secara positif dalam hidupnya.

Ryff (1989) mendefinisikan psychological well-being sebagai suatu dorongan untuk menyempurnakan dan merealisasikan potensi diri yang sesungguhnya. Dorongan ini akan dapat menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat psychological well-being-nya menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki keadaan hidupnya yang akan membuat psychological well-being-nya meningkat.

Ia juga menambahkan bahwa psychological well-being merujuk pada perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan, dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri (Ryff, 1989).

Teori lain menyebutkan bahwa psychological well-being memiliki konsep yang berimbang dengan konseptualisasi kesehatan mental. Hal tersebut dapat diasumsikan jika seseorang memiliki kesehatan mental yang baik, maka orang tersebut memiliki keadaan psychological well-being yang baik pula (Keyes, 2002).

Selain itu Lawton (2003) mendefinisikan psychological well-being sebagai tingkat evaluasi mengenai kompetensi diri seseorang, yang ditekankan pada hirarki tujuan individu.

Dari beberapa definisi di atas peneliti menyimpulkan bahwa psychological well-being adalah suatu dorongan atau perasaan untuk menyempurnakan dan merealisasikan potensi diri yang sesungguhnya. Perasaan seseorang mengenai aktivitas kehidupan sehari-hari,dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri. 

B.     Dimensi Psychological Well-being

Ada enam dimensi dari psychological well-being menurut Ryff (dalam Papalia, 2007), yaitu:

1.      Penerimaan diri (self acceptance)

Penerimaan diri yang baik ditandai dengan kemampuan menerima diri baik segi positif maupun negatif. Menurut Maslow (1990) penerimaan diri merupakan salah satu karakter dari individu yang mengaktualisasikan dirinya dan mereka dapat menerima diri apa adanya, memberikan penilaian yang tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri (Calhoun dan Accocela, 1990).

2.      Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others)

Individu yang matang digambarkan sebagai individu yang mampu untuk mencintai dan membina hubungan interpersonal yang dibangun atas dasar saling percaya. Individu juga memiliki perasaan simpati dan kasih sayang yang kuat terhadap sesama manusia dan mampu memberikan cinta, memiliki persahabatan yang mendalam, dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain dengan baik.

3.      Otonomi (autonomy)

Dimensi otonomi menyangkut kemampuan untuk menentukan nasib sendiri (self-determination), bebas dan memiliki kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri.

4.      Penguasaan lingkungan (environmental mastery)

Kemampuan individu untuk memilih, menciptakan, dan mengelola lingkungan agar sesuai dengan kondisi psikologisnya dalam rangka mengembangkan diri.

5.      Tujuan hidup (purpose of life)

Individu yang berada dalam kondisi ini diasumsikan memiliki keyakinan yang dapat memberikan makna dan arah bagi kehidupannya. Individu yang memiliki psychological well-being perlu memiliki pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah hidup yang dijalaninya, misalnya individu dapat mengabdikan dirinya pada masyarakat.

6.      Pertumbuhan pribadi (personal growth)

Mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan potensinya, tumbuh sebagai individu dan dapat berfungsi secara penuh (fully functioning). Individu yang dapat berfungsi secara penuh adalah individu yang dapat terbuka terhadap pengalaman sehingga akan lebih menyadari lingkungan sekitarnya.

Dari ke-enam dimensi yang ada pada psychological well-being tersebut, semua dimensi ikut diteliti sebagai variabel dependen di dalam penelitian ini.

C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Psychological Well-being

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi psychological well-being pada diri seseorang menurut Ryff (1989), antara lain:

Faktor Eksternal

a.       Status Sosial Ekonomi

Ryff mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari dirinya. Menurut Ryan dan Deci (dalam Samman E., 2007) individu dengan tingkat penghasilan tinggi, status menikah, dan mempunyai dukungan sosial tinggi akan memiliki psychological well-being yang lebih tinggi.

b.      Budaya

Ryff mengatakan bahwa sistem nilai individualisme-kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan dimensi otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme, memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.

c.       Faktor Dukungan Sosial

Hasil penelitian Ryff menemukan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar individu akan sangat mempengaruhi psychological well-being yang dirasakan oleh individu tersebut.

Faktor Internal

a.       Usia

Dari penelitian yang dilakukan oleh Ryff ditemukan adanya perbedaan tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok usia. Dalam dimensi penguasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring dengan pertumbuhan usia. Semakin bertambah usia seseorang maka ia akan semakin mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu tersebut semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan keadaan dirinya.

b.      Jenis Kelamin

Menurut Ryff satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif dengan orang lain. Sejak kecil, stereotype gender yang telah tertanam dalam diri anak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia dan Feldman, 2009). Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.

               

Sumber: 

Fieldman, R. D., Papalia, & Olds. (2009). Human development. Jakarta: Salemba Humanika.

Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 57, No.6, 1069- 1081. American Psychological Association, Inc doi:10.1037/0022-3514.57.6.1069

Samman, E. (2007). Psychological and Subjective Well-being: A Proposal for Internationally Comparable Indicators. https://doi.org/10.1080/13600810701701939

Snyder &  Lopez. (2002). Handbook of Positive Psychology. United Kingdom: Oxford University Press

 

Self-Esteem

 

A.      Definisi Self-esteem

Minchinton, J (1993) menyatakan bahwa “Self-esteem is the value we place on ourselves. It is our assessment of our worth as human being, based on our approval or disapproval of ourselves and our behavior.” Menurut Erikson (dalam Papalia, Olds, Fieldman, 2009) faktor penentu utama harga diri adalah pandangan anak mengenai kemampuan mereka untuk pekerjaan yang produktif, persoalan yang diselesaikan dalam masa kanak-kanak tengah adalah industry versus infentority. Papalia, Old & Fieldman (2009) menyatakan bahwa self-esteem bagian dari evaluasi dari konsep diri, penilaian yang dibuat anak mengenai keberhargaan mereka. Dalam sudut pandang aliran neo-peaget, harga diri didasari oleh kemampuan kognitif anak yang tumbuh untuk menggambarkan diri mereka. Self-esteem adalah bagaimana kita berpikir dan merasakan tentang diri kita sendiri, hal itu mengacu pada bagaimana kita berpikir tentang cara kita melihat, kemampuan kita, hubungan kita dengan orang lain, dan harapan kita untuk masa depan (Powell, J. 2004).

B.      Aspek-aspek Self-esteem

Minchinton, J (1993) menyatakan bahwa self-esteem memiliki tiga aspek yaitu perasaan mengenai dirinya sendiri, perasaan terhadap hidup, dan hubungan dengan orang lain.

a)       Perasaan mengenai diri sendiri

Orang yang memiliki self-esteem yang tinggi akan menerima diri sendiri tanpa syarat serta menghargai nilai diri sendiri sebagai manusia. Sedangkan orang yang memiliki self-esteem yang rendah akan kurang menghargai dirinya sendiri dengan meyakini penilaian pribadinya yang secara langsung menilai pencapaiannya

1.       Menerima diri sendiri

Individu dapat menerima dirinya secara penuh, merasa nyaman dengan keadaan dirinya dan memandang baik tentang dirinya apapun kondisinya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi individu mampu menilai dirinya memiliki keunikan tersendiri meskipun ada sifat, kemampuan atau keterampilan yang tidak dimiliki.

2.       Memaafkan diri sendiri

Individu dapat menghormati dan memiliki keyakinan mendalam bahwa diri kita adalah sosok yang paling penting dan apapun itu, jika tidak berlaku bagi orang lain, setidaknya berlaku bagi diri kita sendiri. Selain itu, individu memaklumi dan memaafkan dirinya atas segala kekuarangan dan ketidaksempurnaan yang dimiliki.

3.       Menghargai nilai pribadi

Individu dapat menghargai pribadi sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain. Individu tidak akan merasa lebih baik ketika mereka dipuji atau merasa buruk ketika mereka dikritik. Perasaan baik ini tidak terpengaruh oleh kondisi eksternal.

4.       Mengendalikan emosi diri

Individu bebas dari perasaan tidak menyenangkan seperti rasa bersalah, marah, takut dan kesedihan. Individu dengan self-esteem tinggi memegang kendali atas emosinya sendiri, sebaliknya individu dengan self-esteem rendah lebih mudah mempengaruhi perasaannya.

b)      Perasaan mengenai hidup

Jika seseorang memiliki self-esteem yang tinggi maka orang tersebut akan bertanggung jawab dan berlapang dada atas setiap bagian hidup yang dijalani. Tetapi orang yang memiliki self-esteem yang rendah dalam kehidupan dan apa yang terjadi didalam hidupnya sering kali terlihat tak terkendali

1.       Menerima kenyataan

Individu bertanggung jawab atas sebagian hidup yang dijalaninya. Individu dengan self-esteem tinggi akan lebih berlapang dada menerima kenyataan dan tidak menyalahkan keadaan hidup atas segala masalah yang dihadapinya, individu bertanggung jawab untuk sesuatu yang terjadi dalam hidupnya dan sadar bahwa semua terjadi atas pilihan dan keputusannya sendiri, bukan karena factor eksternal. Maka individu pun akan membangun harapan atau cita- cita secara realistis sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

2.       Memegang kendali atas diri sendiri

Individu dengan self-esteem tinggi juga tidak berusaha mengendalikan orang lain atau situasi yang ada. Sebaliknya, ia akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.

c)       Hubungan dengan orang lain

Orang yang memiliki self-esteem yang tinggi dapat bertoleransi dan memberikan penghargaan yang sama terhadap semua orang, meyakini bahwa setiap orang termasuk dirinya mempunyai hak yang sama. Sedangkan orang yang memiliki self-esteem yang rendah pada dasarnya akan kurang menghargai orang lain. Tidak toleransi terhadap orang lain dan meyakinkan bahwa orang lain harus hidup dengan caranya.

1.       Toleran dan menghargai orang lain

Individu dengan toleransi dan penghargaan yang sama terhadap semua orang berarti memiliki self-esteem yang bagus. Individu percaya bahwa setiap orang, termasuk dirinya, memiliki hak yang sama dan patut dihormati.

 Bijaksana dalam hubungan

Individu dengan self-esteem tinggi mampu memandang hubungannya dengan orang lain secara bijaksana. Ketika individu merasa nyaman dengan dirinya sendiri, ia pun akan menghormati orang lain sebagaimana adanya mereka. Individu dapat menerima kekuarangan orang lain, pandai menguasai diri (berwatak tenang), fleksibel dan bertanggung jawab dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Individu memandang semua orang layak dan pantas untuk dihormati.


Sumber :

Minchinton, J. (1993). Maximum Self-esteem. Kuala Lumpur : Golden Books centre SDN.BHD

Papalia, Old, Fieldman. (2009). Human Development : Perkembangan Manusia. Edisi 10 buku 1. Jakarta: Salemba Humanika

Powell, J. (2006). Self-Esteem. United State : Smart Apple Media

Senin, 01 Mei 2023

Stres

a. Definisi

Fieldman (1989) menyatakan bahwa stress adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku Menurut Greenberg (2011) menjelaskan bahwa stressor berasal dari stimulus yang memiliki potensi untuk memicu reaksi atau respon “melawan atau lari” yang menimbulkan perubahan fisiologis, seperti meningkatnya ketegangan otot dan tekanan darah. Konsekuensi dari perubahan tersebut menimbulkan tegangan sehingga individu dapat dikatakan sedang berada dalam kondisi stres.

b. Macam-macam stress

Menurut Greenberg, stres dapat dibedakan menjadi dua yaitu positif dan negatif:

1. Stres Positif (eustres)

Eustress sebagai suatu respon nonspesifik yang terdapat pada tubuh untuk memenuhi tuntutan yang ada. Tuntuttan tersebut merupakan sesuatu yang baik (misalnya saat sebelum presentasi, kenaikan pangkat, merencanakan pernikahan). Pada keadaan ini individu tetap mengalami perubahan fisiologis namun individu dapat cepat mengadaptasikan dirinya pada kondisi yang mengandung stressor.

2. Stres Negatif (distress)

Distress diartikan sebagai suatu kondisi yang mengandung hal buruk yang harus diadaptasikan oleh individu (misalnya, kematian pasangan). Selain itu, jika eustress tidak mendapat penanganan yang sesuai maka dapat berubah menjadi distress. Gejala distress biasanya terkait dengan kesehatan fisik maupun psikis, berupa tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan atau penurunan semangat bekerja.

c. Sumber Stres

Stres adalah suatu tuntutan yang mendorong organisme untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri. Sedangkan stresor adalah suatu sumber stres (Nevid dkk, 2002).

Sumber stres terdiri dari 3 aspek antara lain:

1. Diri sendiri

Sumber stres dari dalam diri sendiri umumnya dikarenakan konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan yang berbeda, dalam hal ini adalah berbagai permasalahan yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak mampu diatasi maka akan dapat menimbulkan stres.

2. Keluarga

Stres karena masalah keluarga biasanya terjadi karena adanya perselisihan antara keluarga, masalah keuangan, serta adanya tujuan yang berbeda diantara keluarga.

3. Masyarakat dan lingkungan

Sumber stres ini dapat terjadi di masyarakat dan lingkungan seperti hubungan interpersonal serta kurang adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak berkembang.

d. Gejala Stres

Taylor (1991) menyatakan, stres dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indicator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu

1. Respon fisiologis

Dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan. Selain juga menjadi mudah sakit, mual, pusing, gerakan motoric yang tidak disadari serta gairan seks yang menurun.

2. Respon Perilaku

Biasanya ditandai dengan kurang tidur atau lebih sering tidur, nafsu makan yang bertambah atau makin berkurang, menyendiri, menunda pekerjaan, serta merokok atau bahkan mengandalkan obat penenang.

3. Respon emosi

Kemunculannya sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, mudah tersinggung, moody, merasa kesepian, menarik diri dan selalu merasa tertekan.

E. Stres dan Hipertensi Pada Lansia

     Stres atau ketegangan jiwa seperti tertekan, marah, takut dan bersalah dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu denyut jantung lebih kencang sehingga tekanan darah meningkat (Mc Eween, 1998). Stres yang berkepanjangan mengakibatkan tekanan darah tinggi menetap. Walaupun belum terbukti, namun angka kejadian di masyarakat perkotan lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami masayarakat di kota (Andria, 2013). Greenberg (2002) menjelaskan bahwa situasi hidup (live situation) dapat dipersepsikan sebagai kondisi yang menyebabkan stress (perceived as stressful). Jika individu mempersepsi suatu kondisi stress hal ini menimbulkan reaksi emosional (emotional aurosal) terhadap situasi yang menekan. Perasaan seperti ketakutan, marah, tidak aman, tidak berdaya dapat menjadi akibat dari situasi hidup yang dipersepsikan sebagai kondisi stress. Perasaan tersebut menyebabkan reaksi fisik (psychological aurosal) seperti meningkatnya tekanan darah, kolestrol, gula darah, tekanan otot dan disertai penurunan sistem imun. Goldstein & Morewitz (dalam Morewitz, 2007) menyatakan bahwa pada umumnya para lansia mengalami beberapa penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit serebrovaskular (stroke), penyakit paru dan pernapasan kronis, dan diabetes mellitus.