Jumat, 05 Mei 2023

Asertif

 

Teori Asertif

 

Asertif adalah tingkah laku yang menampilkan keberanian untuk secara jujur dan terbuka dalam menyatakan kebutuhan, perasaan dan pikiran-pikiran apa adanya, mempertahankan hak-hak pribadi serta menolak permintaan-permintaan yang tidak sesuai atau tidak masuk akal dari orang lain atau standar-standar yang berlaku (Rathus & Nevid, 1983). Senada dengan hal tersebut, Sunardi (2010) menyatakan bahwa asertif adalah kemampuan untuk menyatakan diri dengan tulus, jujur, jelas, tegas, terbuka, sopan, spontan, apa adanyadan tepat tentang keinginan, pikiran, perasaandan emosi yang dialami, apakah hal tersebut yang dianggap menyenangkan ataupun mengganggu sesuai dengan hak-hak yang dimiliki dirinya tanpa merugikan, melukai,menyinggung, atau mengancam hak-hak, kenyamanan, dan integritasperasaan orang lain.

Perilaku asertif tidak dilatarbelakangi maksud-maksud tertentu, seperti untuk memanipulasi, memanfaatkan, memperdaya atau pun mencari keuntungan dari pihak lain. Dalam berlatih asertif bukan hanya terfokus pada perilaku verbal, tetapi juga komponen-komponen lain seperti kontak mata, postur tubuh, gesture, ekspresi wajah, volume suara dan kelancaran (Nissim & Sabat, 2013). Menurut Simplicio (3013) perilaku asertif dapat cenderung didorong oleh kepribadian individu.

Menurut Lange & Jakubowski (1978), terdapat beberapa ciri-ciri individu dengan perilaku asertif, ciri-ciri yang dimaksud adalah:

1.      Menghormati hak-hak orang lain dan diri sendiri. Hal yang dimaksud adalah bahwa setiap individu memiliki hak yang sama dengan individu lainnya tanpa melihat perbedaan usia, jabatan atau golongan.

2.      Berani mengemukakan pendapat secara langsung. Hal yang dimaksud adalah bahwa setiap individu dengan perilaku asertif akan mampu mengungkapkan segala perasaan yang dirasakannya atau sesuatu yang dipikirkannya.

3.      Kejujuran. Dalam hal ini, kejujuran yang ditunjukkan dalam mengekspresikan diri agar dapat mengkomunikasikan perasaan, pendapat ataupun pilihan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

4.      Memperhatikan situasi dan kondisi. Hal yang dimaksud adalah, bahwa setiap individu yang berperilaku asertif akan mampu memperhatikan situasi, lokasi, frekuensi serta intensitas  komunikasi

5.      Bahasa tubuh. Selain dari beberapa ciri perilaku asertif yang telah dijelaskan sebelumnya, ciri perilaku asertif lainnya dapat ditunjukkan dengan bahasa tubuh. Tidak berani melakukan kontak mata serta mengemukakan nada bicara yang tidak tepat dapat menghambat komunikasi.

Menurut Rathus dan Nevid (1983), terdapat enam hal yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif, yaitu:

1.      Jenis Kelamin. Jenis kelamin mempengaruhi perkembangan perilaku asertif. Wanita pada umumnya lebih sulit bersikap asertif seperti mengungkapkan perasaan dan pikiran dibandingkan dengan laki-laki.

2.      Self-Esteem. Disebut juga dengan harga diri. Individu yang berhasil untuk berperilaku asertif adalah individu yang harus memiliki keyakinan. Orang yang memiliki keyakinan diri yang tinggi memiliki kekuatiran sosial yang rendah sehingga mampu mengungkapkan pendapat dan perasaan tanpa merugikan orang lain dan diri sendiri.

3.      Tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin luas wawasan berpikir sehingga memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih terbuka.

4.      Tipe Kepribadian. Hal ini dipengaruhi oleh tipe kepribadian, dimana seseorang akan bertingkah laku berbeda dengan individu kepribadian lain.

Simplicio (2012) juga menyebutkan bahwa pelatihan asertif memiliki dampak postif dan memungkinkan untuk koban bullying sebagai upaya mengajarkan cara mengungkapkan melalui kegiatan sosial.  Selain itu tujuan pelatihan asrtif adalah untuk meningkatkan keyakinan dan perilakuindividu  sehingga mereka tegas terhadap diri mereka sendiri, mendapatkan "self-esteem" dan menunjukkan emosi pribadi serta pikiran secara tepat. Kemudian hasil dari pelatihan aserif adalah berkembangkan kemampuan interpersoanl individu menjadi lebih efektif (Albert & Emmerson dalam Dehanavi & Ebrahimi, 2016).

 Daftar Pustaka

Dehnavi & Ebrahimi. (2016). Effect of Assertiveness Skills Training on the Level of Aggression in High School First Grade Female Students in Qorveh City. International Journal of Humanities and Cultural Studies ISSN: 2356-5926

Lange, A. J dan Jackubowski, P. (1978). Responsible assertive behavior: Cognitive behavioral procedures training. Illionis: Research Press

Nissim, M & Sabat. (2013). Parental Bullying, Aggresion and Assertion: A Philosophical and Psychoanalytic Revisioning of Frank’s Summers Case of Anna. Psychoanalityc Inquiry 33:153-165 doi: 10.1080/07351690.2013.764708

Rathus, S. A & Nevid, J. S. (1983). Adjustment and growth: The challenges of life. (2nded).CBS College Publishing: New York

Simplicio, J. (2012). How to Effectly Use Positive Character Attributes Exhibited By Bullies t Change Negative Behaviors. Journal of Instructional Psychology Vol.40 No.1

Sunardi. 2010. Latihan Asertif. Diunduh tanggal 20 Oktober di http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031-SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/LATIHAN_ASERTIF.pdf

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar