Teori Asertif
Asertif
adalah tingkah laku yang menampilkan
keberanian untuk secara jujur dan terbuka dalam menyatakan kebutuhan, perasaan
dan pikiran-pikiran apa adanya, mempertahankan hak-hak pribadi serta menolak permintaan-permintaan
yang tidak sesuai atau tidak masuk akal dari orang lain atau standar-standar
yang berlaku (Rathus & Nevid, 1983). Senada dengan hal tersebut, Sunardi
(2010) menyatakan bahwa asertif adalah kemampuan
untuk menyatakan diri dengan tulus, jujur, jelas, tegas, terbuka, sopan,
spontan, apa adanyadan tepat tentang
keinginan, pikiran, perasaandan emosi yang dialami, apakah hal tersebut yang
dianggap menyenangkan ataupun mengganggu sesuai dengan hak-hak yang dimiliki
dirinya tanpa
merugikan, melukai,menyinggung, atau mengancam hak-hak, kenyamanan, dan
integritasperasaan orang lain.
Perilaku
asertif tidak dilatarbelakangi maksud-maksud tertentu, seperti untuk
memanipulasi, memanfaatkan, memperdaya atau pun mencari keuntungan dari pihak
lain. Dalam berlatih asertif bukan hanya terfokus pada perilaku verbal, tetapi
juga komponen-komponen lain seperti kontak mata, postur tubuh, gesture,
ekspresi wajah, volume suara dan kelancaran (Nissim & Sabat, 2013).
Menurut Simplicio (3013) perilaku
asertif dapat cenderung
didorong oleh kepribadian individu.
Menurut Lange & Jakubowski
(1978), terdapat beberapa ciri-ciri individu dengan perilaku asertif, ciri-ciri
yang dimaksud adalah:
1. Menghormati hak-hak orang lain dan diri sendiri. Hal yang dimaksud adalah bahwa
setiap individu memiliki hak yang sama dengan individu lainnya tanpa melihat
perbedaan usia, jabatan atau golongan.
2. Berani mengemukakan pendapat secara langsung. Hal yang dimaksud adalah bahwa
setiap individu dengan perilaku asertif akan mampu mengungkapkan segala
perasaan yang dirasakannya atau sesuatu yang dipikirkannya.
3. Kejujuran. Dalam hal ini, kejujuran yang ditunjukkan dalam
mengekspresikan diri agar dapat mengkomunikasikan perasaan, pendapat ataupun
pilihan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
4. Memperhatikan situasi dan kondisi. Hal yang dimaksud adalah, bahwa
setiap individu yang berperilaku asertif akan mampu memperhatikan situasi,
lokasi, frekuensi serta intensitas
komunikasi
5. Bahasa tubuh. Selain dari beberapa ciri perilaku asertif yang telah
dijelaskan sebelumnya, ciri perilaku asertif lainnya dapat ditunjukkan dengan
bahasa tubuh. Tidak berani melakukan kontak mata serta mengemukakan nada bicara
yang tidak tepat dapat menghambat komunikasi.
Menurut Rathus dan Nevid (1983),
terdapat enam hal yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif, yaitu:
1. Jenis Kelamin. Jenis kelamin
mempengaruhi perkembangan perilaku asertif. Wanita pada umumnya lebih sulit
bersikap asertif seperti mengungkapkan perasaan dan pikiran dibandingkan dengan
laki-laki.
2. Self-Esteem. Disebut juga dengan
harga diri. Individu yang berhasil untuk berperilaku asertif adalah individu
yang harus memiliki keyakinan. Orang yang memiliki keyakinan diri yang tinggi
memiliki kekuatiran sosial yang rendah sehingga mampu mengungkapkan pendapat
dan perasaan tanpa merugikan orang lain dan diri sendiri.
3. Tingkat pendidikan. Semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang, semakin luas wawasan berpikir sehingga memiliki
kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih terbuka.
4. Tipe Kepribadian. Hal ini
dipengaruhi oleh tipe kepribadian, dimana seseorang akan bertingkah laku
berbeda dengan individu kepribadian lain.
Simplicio (2012) juga menyebutkan bahwa pelatihan asertif memiliki dampak postif dan memungkinkan untuk koban bullying sebagai upaya mengajarkan cara mengungkapkan melalui kegiatan sosial. Selain itu tujuan pelatihan asrtif adalah untuk meningkatkan keyakinan dan perilakuindividu sehingga mereka tegas terhadap diri mereka sendiri, mendapatkan "self-esteem" dan menunjukkan emosi pribadi serta pikiran secara tepat. Kemudian hasil dari pelatihan aserif adalah berkembangkan kemampuan interpersoanl individu menjadi lebih efektif (Albert & Emmerson dalam Dehanavi & Ebrahimi, 2016).
Dehnavi & Ebrahimi. (2016). Effect
of Assertiveness Skills Training on the Level of Aggression in High School
First Grade Female Students in Qorveh City. International Journal of
Humanities and Cultural Studies ISSN: 2356-5926
Lange,
A. J dan Jackubowski, P. (1978). Responsible assertive
behavior: Cognitive behavioral procedures training. Illionis: Research
Press
Nissim, M & Sabat. (2013). Parental Bullying,
Aggresion and Assertion: A Philosophical and Psychoanalytic Revisioning of
Frank’s Summers Case of Anna.
Psychoanalityc Inquiry 33:153-165 doi: 10.1080/07351690.2013.764708
Rathus,
S. A & Nevid, J. S. (1983). Adjustment and growth: The challenges of life. (2nded).CBS College
Publishing: New York
Simplicio, J. (2012). How to Effectly Use Positive
Character Attributes Exhibited By Bullies t Change Negative Behaviors. Journal of Instructional Psychology Vol.40
No.1
Sunardi.
2010. Latihan Asertif. Diunduh tanggal 20 Oktober di http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031-SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/LATIHAN_ASERTIF.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar