Senin, 01 Mei 2023

Stres

a. Definisi

Fieldman (1989) menyatakan bahwa stress adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku Menurut Greenberg (2011) menjelaskan bahwa stressor berasal dari stimulus yang memiliki potensi untuk memicu reaksi atau respon “melawan atau lari” yang menimbulkan perubahan fisiologis, seperti meningkatnya ketegangan otot dan tekanan darah. Konsekuensi dari perubahan tersebut menimbulkan tegangan sehingga individu dapat dikatakan sedang berada dalam kondisi stres.

b. Macam-macam stress

Menurut Greenberg, stres dapat dibedakan menjadi dua yaitu positif dan negatif:

1. Stres Positif (eustres)

Eustress sebagai suatu respon nonspesifik yang terdapat pada tubuh untuk memenuhi tuntutan yang ada. Tuntuttan tersebut merupakan sesuatu yang baik (misalnya saat sebelum presentasi, kenaikan pangkat, merencanakan pernikahan). Pada keadaan ini individu tetap mengalami perubahan fisiologis namun individu dapat cepat mengadaptasikan dirinya pada kondisi yang mengandung stressor.

2. Stres Negatif (distress)

Distress diartikan sebagai suatu kondisi yang mengandung hal buruk yang harus diadaptasikan oleh individu (misalnya, kematian pasangan). Selain itu, jika eustress tidak mendapat penanganan yang sesuai maka dapat berubah menjadi distress. Gejala distress biasanya terkait dengan kesehatan fisik maupun psikis, berupa tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan atau penurunan semangat bekerja.

c. Sumber Stres

Stres adalah suatu tuntutan yang mendorong organisme untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri. Sedangkan stresor adalah suatu sumber stres (Nevid dkk, 2002).

Sumber stres terdiri dari 3 aspek antara lain:

1. Diri sendiri

Sumber stres dari dalam diri sendiri umumnya dikarenakan konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan yang berbeda, dalam hal ini adalah berbagai permasalahan yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak mampu diatasi maka akan dapat menimbulkan stres.

2. Keluarga

Stres karena masalah keluarga biasanya terjadi karena adanya perselisihan antara keluarga, masalah keuangan, serta adanya tujuan yang berbeda diantara keluarga.

3. Masyarakat dan lingkungan

Sumber stres ini dapat terjadi di masyarakat dan lingkungan seperti hubungan interpersonal serta kurang adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak berkembang.

d. Gejala Stres

Taylor (1991) menyatakan, stres dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indicator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu

1. Respon fisiologis

Dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan. Selain juga menjadi mudah sakit, mual, pusing, gerakan motoric yang tidak disadari serta gairan seks yang menurun.

2. Respon Perilaku

Biasanya ditandai dengan kurang tidur atau lebih sering tidur, nafsu makan yang bertambah atau makin berkurang, menyendiri, menunda pekerjaan, serta merokok atau bahkan mengandalkan obat penenang.

3. Respon emosi

Kemunculannya sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, mudah tersinggung, moody, merasa kesepian, menarik diri dan selalu merasa tertekan.

E. Stres dan Hipertensi Pada Lansia

     Stres atau ketegangan jiwa seperti tertekan, marah, takut dan bersalah dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu denyut jantung lebih kencang sehingga tekanan darah meningkat (Mc Eween, 1998). Stres yang berkepanjangan mengakibatkan tekanan darah tinggi menetap. Walaupun belum terbukti, namun angka kejadian di masyarakat perkotan lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami masayarakat di kota (Andria, 2013). Greenberg (2002) menjelaskan bahwa situasi hidup (live situation) dapat dipersepsikan sebagai kondisi yang menyebabkan stress (perceived as stressful). Jika individu mempersepsi suatu kondisi stress hal ini menimbulkan reaksi emosional (emotional aurosal) terhadap situasi yang menekan. Perasaan seperti ketakutan, marah, tidak aman, tidak berdaya dapat menjadi akibat dari situasi hidup yang dipersepsikan sebagai kondisi stress. Perasaan tersebut menyebabkan reaksi fisik (psychological aurosal) seperti meningkatnya tekanan darah, kolestrol, gula darah, tekanan otot dan disertai penurunan sistem imun. Goldstein & Morewitz (dalam Morewitz, 2007) menyatakan bahwa pada umumnya para lansia mengalami beberapa penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit serebrovaskular (stroke), penyakit paru dan pernapasan kronis, dan diabetes mellitus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar