Jumat, 05 Mei 2023

Well-being

 

A.    Definisi Psychological Well-being

Ditinjau dari segi bahasa, kata “well-being” bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya adalah “kesejahteraan”. Ryan dan Deci (dalam Samman E., 2007) mengemukakan bahwa ada dua pendekatan mengenai well-being. Pertama adalah pendekatan hedonis dan yang kedua adalah pendekatan eudamonis. Dari dua pendekatan tersebut telah melahirkan dua konsep baru mengenai well-being, yaitu subjective well-being (kesejahteraan subjektif) dan psychological well-being (kesejahteraan psikologis).

Pendekatan hedonis menjadi landasan bagi konsep subjective well-being, sedangkan pendekatan eudaimonik menjadi landasan bagi konsep psychologicalwell-being. Konsep subjective well-being menyatakan bahwa well-being individu ditentukan oleh sejauhmana kepuasan individu terhadap kehidupannya serta sejauhmana keseimbangan antara afek positif dan afek negatif yang dirasakan oleh individu tersebut Bradbum, Ryff dan Keyes (dalam Snyder dan Lopez, 2002). Sementara itu, konsep psychological well-being menyatakan bahwa well-being ditentukan oleh seberapa baik kemampuan individu untuk berfungsi secara positif dalam hidupnya.

Ryff (1989) mendefinisikan psychological well-being sebagai suatu dorongan untuk menyempurnakan dan merealisasikan potensi diri yang sesungguhnya. Dorongan ini akan dapat menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat psychological well-being-nya menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki keadaan hidupnya yang akan membuat psychological well-being-nya meningkat.

Ia juga menambahkan bahwa psychological well-being merujuk pada perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan, dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri (Ryff, 1989).

Teori lain menyebutkan bahwa psychological well-being memiliki konsep yang berimbang dengan konseptualisasi kesehatan mental. Hal tersebut dapat diasumsikan jika seseorang memiliki kesehatan mental yang baik, maka orang tersebut memiliki keadaan psychological well-being yang baik pula (Keyes, 2002).

Selain itu Lawton (2003) mendefinisikan psychological well-being sebagai tingkat evaluasi mengenai kompetensi diri seseorang, yang ditekankan pada hirarki tujuan individu.

Dari beberapa definisi di atas peneliti menyimpulkan bahwa psychological well-being adalah suatu dorongan atau perasaan untuk menyempurnakan dan merealisasikan potensi diri yang sesungguhnya. Perasaan seseorang mengenai aktivitas kehidupan sehari-hari,dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri. 

B.     Dimensi Psychological Well-being

Ada enam dimensi dari psychological well-being menurut Ryff (dalam Papalia, 2007), yaitu:

1.      Penerimaan diri (self acceptance)

Penerimaan diri yang baik ditandai dengan kemampuan menerima diri baik segi positif maupun negatif. Menurut Maslow (1990) penerimaan diri merupakan salah satu karakter dari individu yang mengaktualisasikan dirinya dan mereka dapat menerima diri apa adanya, memberikan penilaian yang tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri (Calhoun dan Accocela, 1990).

2.      Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others)

Individu yang matang digambarkan sebagai individu yang mampu untuk mencintai dan membina hubungan interpersonal yang dibangun atas dasar saling percaya. Individu juga memiliki perasaan simpati dan kasih sayang yang kuat terhadap sesama manusia dan mampu memberikan cinta, memiliki persahabatan yang mendalam, dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain dengan baik.

3.      Otonomi (autonomy)

Dimensi otonomi menyangkut kemampuan untuk menentukan nasib sendiri (self-determination), bebas dan memiliki kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri.

4.      Penguasaan lingkungan (environmental mastery)

Kemampuan individu untuk memilih, menciptakan, dan mengelola lingkungan agar sesuai dengan kondisi psikologisnya dalam rangka mengembangkan diri.

5.      Tujuan hidup (purpose of life)

Individu yang berada dalam kondisi ini diasumsikan memiliki keyakinan yang dapat memberikan makna dan arah bagi kehidupannya. Individu yang memiliki psychological well-being perlu memiliki pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah hidup yang dijalaninya, misalnya individu dapat mengabdikan dirinya pada masyarakat.

6.      Pertumbuhan pribadi (personal growth)

Mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan potensinya, tumbuh sebagai individu dan dapat berfungsi secara penuh (fully functioning). Individu yang dapat berfungsi secara penuh adalah individu yang dapat terbuka terhadap pengalaman sehingga akan lebih menyadari lingkungan sekitarnya.

Dari ke-enam dimensi yang ada pada psychological well-being tersebut, semua dimensi ikut diteliti sebagai variabel dependen di dalam penelitian ini.

C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Psychological Well-being

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi psychological well-being pada diri seseorang menurut Ryff (1989), antara lain:

Faktor Eksternal

a.       Status Sosial Ekonomi

Ryff mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari dirinya. Menurut Ryan dan Deci (dalam Samman E., 2007) individu dengan tingkat penghasilan tinggi, status menikah, dan mempunyai dukungan sosial tinggi akan memiliki psychological well-being yang lebih tinggi.

b.      Budaya

Ryff mengatakan bahwa sistem nilai individualisme-kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan dimensi otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme, memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.

c.       Faktor Dukungan Sosial

Hasil penelitian Ryff menemukan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar individu akan sangat mempengaruhi psychological well-being yang dirasakan oleh individu tersebut.

Faktor Internal

a.       Usia

Dari penelitian yang dilakukan oleh Ryff ditemukan adanya perbedaan tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok usia. Dalam dimensi penguasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring dengan pertumbuhan usia. Semakin bertambah usia seseorang maka ia akan semakin mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu tersebut semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan keadaan dirinya.

b.      Jenis Kelamin

Menurut Ryff satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif dengan orang lain. Sejak kecil, stereotype gender yang telah tertanam dalam diri anak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia dan Feldman, 2009). Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.

               

Sumber: 

Fieldman, R. D., Papalia, & Olds. (2009). Human development. Jakarta: Salemba Humanika.

Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 57, No.6, 1069- 1081. American Psychological Association, Inc doi:10.1037/0022-3514.57.6.1069

Samman, E. (2007). Psychological and Subjective Well-being: A Proposal for Internationally Comparable Indicators. https://doi.org/10.1080/13600810701701939

Snyder &  Lopez. (2002). Handbook of Positive Psychology. United Kingdom: Oxford University Press

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar