A. Definisi Psychological Well-being
Ditinjau dari segi bahasa, kata “well-being” bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya
adalah “kesejahteraan”. Ryan
dan Deci (dalam Samman E., 2007) mengemukakan bahwa ada dua pendekatan mengenai
well-being. Pertama adalah pendekatan
hedonis dan yang kedua adalah pendekatan
eudamonis. Dari dua pendekatan tersebut telah melahirkan dua konsep baru
mengenai well-being, yaitu subjective well-being (kesejahteraan
subjektif) dan psychological well-being (kesejahteraan
psikologis).
Pendekatan hedonis menjadi landasan
bagi konsep subjective well-being,
sedangkan pendekatan eudaimonik menjadi landasan bagi konsep psychologicalwell-being. Konsep subjective well-being menyatakan bahwa well-being individu ditentukan oleh
sejauhmana kepuasan individu terhadap kehidupannya serta sejauhmana
keseimbangan antara afek positif dan afek negatif yang dirasakan oleh individu
tersebut Bradbum, Ryff dan Keyes (dalam Snyder dan Lopez, 2002). Sementara itu,
konsep psychological well-being
menyatakan bahwa well-being
ditentukan oleh seberapa baik kemampuan individu untuk berfungsi secara positif
dalam hidupnya.
Ryff (1989) mendefinisikan psychological
well-being sebagai suatu dorongan untuk menyempurnakan dan merealisasikan
potensi diri yang sesungguhnya. Dorongan ini akan dapat menyebabkan seseorang
menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat psychological well-being-nya
menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki keadaan hidupnya yang akan
membuat psychological well-being-nya meningkat.
Ia juga menambahkan bahwa psychological well-being merujuk
pada perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini
dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup,
kecemasan, dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi
potensi atau aktualisasi diri (Ryff, 1989).
Teori lain menyebutkan bahwa psychological
well-being memiliki konsep yang berimbang dengan konseptualisasi kesehatan
mental. Hal tersebut dapat diasumsikan jika seseorang memiliki kesehatan mental
yang baik, maka orang tersebut memiliki keadaan psychological well-being yang baik pula (Keyes, 2002).
Selain itu Lawton (2003)
mendefinisikan psychological well-being sebagai tingkat evaluasi
mengenai kompetensi diri seseorang, yang ditekankan pada hirarki tujuan
individu.
Dari beberapa definisi di atas peneliti menyimpulkan bahwa psychological well-being adalah suatu dorongan atau perasaan untuk menyempurnakan dan merealisasikan potensi diri yang sesungguhnya. Perasaan seseorang mengenai aktivitas kehidupan sehari-hari,dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri.
B. Dimensi Psychological Well-being
Ada
enam dimensi dari psychological
well-being menurut Ryff (dalam Papalia, 2007), yaitu:
1.
Penerimaan diri (self acceptance)
Penerimaan diri yang baik ditandai dengan
kemampuan menerima diri baik segi positif maupun negatif. Menurut Maslow (1990)
penerimaan diri merupakan salah satu karakter dari individu yang mengaktualisasikan
dirinya dan mereka dapat menerima diri apa adanya, memberikan penilaian yang
tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri (Calhoun dan Accocela,
1990).
2. Hubungan
positif dengan orang lain (positive relations with others)
Individu yang matang digambarkan sebagai individu yang mampu untuk mencintai dan membina hubungan interpersonal yang dibangun atas dasar saling percaya. Individu juga memiliki perasaan simpati dan kasih sayang yang kuat terhadap sesama manusia dan mampu memberikan cinta, memiliki persahabatan yang mendalam, dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain dengan baik.
3.
Otonomi (autonomy)
Dimensi otonomi menyangkut kemampuan untuk menentukan nasib sendiri
(self-determination), bebas dan memiliki kemampuan untuk mengatur
perilaku sendiri.
4.
Penguasaan lingkungan (environmental
mastery)
Kemampuan individu untuk memilih, menciptakan, dan mengelola
lingkungan agar sesuai dengan kondisi psikologisnya dalam rangka mengembangkan
diri.
5.
Tujuan hidup (purpose of
life)
Individu yang berada dalam kondisi ini diasumsikan memiliki
keyakinan yang dapat memberikan makna dan arah bagi kehidupannya. Individu yang
memiliki psychological well-being perlu memiliki pemahaman yang jelas
akan tujuan dan arah hidup yang dijalaninya, misalnya individu dapat
mengabdikan dirinya pada masyarakat.
6. Pertumbuhan
pribadi (personal growth)
Mempunyai keinginan untuk terus
mengembangkan potensinya, tumbuh sebagai individu dan dapat berfungsi secara
penuh (fully functioning). Individu yang dapat berfungsi secara penuh
adalah individu yang dapat terbuka terhadap pengalaman sehingga akan lebih
menyadari lingkungan sekitarnya.
Dari ke-enam dimensi yang ada pada psychological well-being tersebut, semua dimensi ikut diteliti sebagai variabel dependen di dalam penelitian ini.
C. Faktor-faktor yang
mempengaruhi Psychological Well-being
Terdapat
dua faktor yang mempengaruhi psychological well-being pada diri
seseorang menurut Ryff (1989), antara lain:
Faktor Eksternal
a.
Status Sosial Ekonomi
Ryff mengemukakan bahwa status
sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup,
penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki status
sosial ekonomi yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain
yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari dirinya. Menurut Ryan
dan Deci (dalam Samman E., 2007) individu dengan tingkat penghasilan tinggi,
status menikah, dan mempunyai dukungan sosial tinggi akan memiliki psychological
well-being yang lebih tinggi.
b.
Budaya
Ryff mengatakan bahwa sistem nilai individualisme-kolektivisme
memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu
masyarakat. Budaya barat memiliki skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan
diri dan dimensi otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai
kolektivisme, memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan
orang lain.
c.
Faktor Dukungan Sosial
Hasil penelitian Ryff menemukan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar individu akan sangat mempengaruhi psychological well-being yang dirasakan oleh individu tersebut.
Faktor Internal
a.
Usia
Dari penelitian yang dilakukan oleh Ryff ditemukan adanya perbedaan
tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok usia.
Dalam dimensi penguasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring dengan
pertumbuhan usia. Semakin bertambah usia seseorang maka ia akan semakin
mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu tersebut
semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan
keadaan dirinya.
b.
Jenis Kelamin
Menurut Ryff satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan
signifikan antara laki-laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif
dengan orang lain. Sejak kecil, stereotype gender yang telah tertanam dalam diri anak
laki-laki digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara itu
perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif
terhadap perasaan orang lain (Papalia dan Feldman, 2009). Inilah yang
menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi
hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.
Sumber:
Fieldman, R. D., Papalia, & Olds. (2009). Human development. Jakarta: Salemba Humanika.
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 57, No.6, 1069- 1081. American Psychological Association, Inc doi:10.1037/0022-3514.57.6.1069
Samman, E. (2007). Psychological and Subjective Well-being: A Proposal for Internationally Comparable Indicators. https://doi.org/10.1080/13600810701701939
Snyder & Lopez. (2002). Handbook of Positive Psychology. United Kingdom: Oxford University Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar